Senin, 09 Maret 2015

Mesjid Rolling Stones (Bagian II)

Itulah mesjid, selain menjadi tempat shalat, adalah juga tempat anak-anak bisa merasa senang dan ramai untuk berkumpul bersama teman-teman. Bahagia rasanya bisa pergi ke sana setiap menjelang akan magrib.

Lebih lagi kalau sudah ramadhan, mesjid jadi lebih rame lagi.  Dulu, selama bulan ramadhan kegiatan sekolah diliburkan. Biasanya kami dikasih ijin oleh orangtua untuk tidur di mesjid. Untuk tidur bersama teman-teman.

Menjelang sahur, nanti bangun, untuk rame-rame keliling kampung. Membangunkan manusia, dan juga binatang karena berisik oleh ember atau kaleng yang kami pukulin. Kami lakukan sambil menyanyi dengan suara yang keras. Lagunya bebas, setiap hari selalu berganti syair:
“Mang Ajid, baaaangun, Mang Ajiiiiid!!!”. Itu kalau kami sedang tepat berada di depan rumah Mang Ajid.
“Mang Muston jangan!”.
“Ha ha ha”
“Pak Bambang banguunn, Pak Bambang! Katanya mau tidur!”
“Ha ha ha”

Pokoknya tidur di mesjid itu asik. Sebelum tidur bisa ngobrol-ngobrol dulu, atau pernah menggotong si Dedi yang sudah tidur duluan, untuk dipindah ke tempat lain.
Sayang sekali pas lagi diangkat, si Dedinya keburu bangun. Harusnya jangan, biar ketika bangun, dia kaget, karena berada di dalam keranda mayat.

Berharap dengan itu, si Dedi nanti akan cerita bahwa dia pernah dipindahkan tidurnya oleh  jin, dan juga menyesal karena berani tidur di mesjid tidak baca-baca dulu, tidak mengingat Allah dulu, melainkan malah mengingat si Dila anak Bu Kandar.  

Tiap habis shalat taraweh, sekitar jam delapanan, biasanya anak-anak akan masih main di luar. Main apa saja, bebas. Main petak umpet, main remi, atau apa saja. Itu bisa, karena selama bulan ramadhan, sekolah diliburkan. Dan  jaman dulu mobil belum banyak. Jalanan juga masih lengang. Masih sunyi.

Malam itu saya ikutan bermain petak umpet dan kebagian jadi “kucing”. Saya jongkok, sambil menutup muka saya dengan kedua belah tangan, membiarkan mereka lari nyari tempat sembunyi. Setelah itu, saya pulang.

Seandainya harus dicari, padahal saya tahu, mereka biasanya akan sembunyi di balik pohon, di samping rumah, di balik drum minyak tanah milik warung Mang Ujang, dan di tempat lainnya yang dianggap baik untuk sembunyi. Iya. Tapi sayanya ngantuk. Jadi aja pulang. 

Enggak langsung tidur sih, baca buku dulu. Mereka pasti bingung, kenapa tidak juga dicari. Mau keluar, takut nanti ada “kucing”. Mau terus sembunyi, tapi lama sekali. Iya lama sekali. Entah sampai kapan akhirnya mereka sadar si “kucing” pulang. Saya gak tahu karena sayanya sudah tidur.

Besoknya saya tidak pernah diajak lagi bermain petak umpet. Biarin. Kan kalau saya gak ikutan, si Piyan juga pasti gak mau ikutan, si Wildan juga gak akan, si Entis juga gak akan. Si Nandan juga. Tidak tahu kenapa bisa begitu.

Seperti malam itu, waktu yang lain pada main petak umpet, Entis, Piyan, wildan dan Nandan pada bergabung bersama saya, duduk ngobrol di warung Bi Nae. Warung Bi Nae itu warung kecil. Seperti warung kopi, dan ada atapnya, ada pintunya juga. Tempat biasa anak-anak muda pada nongkrong.

Anak muda yang saya maksud adalah mereka yang usianya lebih tua dari kami. Tapi anak mudanya waktu itu pada gak ada, mungkin lagi pada ke sana, menghadiri di acara kendurian yang diselenggarakan di rumahnya Mang Sadeli.

Tahu rumah Mang Sadeli gak? Mudah-mudahan enggak, biar gak percuma saya jelaskan sekarang. Rumah Mang Sadeli itu letaknya di seberang jalan warung Bi Nae, tapi agak ke sebelah kanan lagi, kira-kira 10 meteran. Deket mesjid. Kalau rumah Bi Haji Acih tahu gak? Gak usah tahu lah, gak penting. 

Warung Bi Nae seperti sengaja harus ada di bumi, untuk menjadi saksi atas saya dan teman-teman berencana menyembunyikan sendal punya orang yang lagi hadir di acara kenduri itu.
Caranya gampang, tinggal pergi ke sana dengan cara diam-diam, terus diambilin deh sendalnya, untuk dibawa ke warung Bi Nae. Waktu itu Bi Naenya sedang ada di dalam warung.
“Di sini aja” kata saya.
“Hi hi iya”
“Nanti mereka nyari ke sini. Kan warung Bi Nae jadi laku” kata saya.
“Eh, jangan. Nanti yang disalahin Bi Nae”
“Terus? Di mana?”, saya nanya
“Di mana ya?”
“Eh, tulisin aja sendalnya?”, saya bilang begitu.
“Tulisin apa?”
“Tulisin nama orang”, kata saya
“Kan enggak tahu sendal siapa?”
“Biarin. Tulis asal aja”
“Hi hi iya”

Setelah saya ngambil spidol di rumah, satu persatu sendal itu ditulisin. Ditulis dengan menulis nama orang. Gak usah dipikirin deh itu sendal siapa, pokoknya tulis. Bisa jadi itu sendal Mang Opik, tapi di sendalnya ditulisin: PUNYA HAJI MUKSIN ALATAS. Bisa jadi itu sendal Mang Makmun, tapi disendalnya ditulisin: PUNYA RHOMA IRAMA. Ada juga sendal yang ditulisin PUNYA SADELI, PUNYA BU ASRI. Atau mungkin itu sendalnya Pak Latif, tapi di sendalnya ditulisin: MILIK KYAI HAJI DAROPI CAKEP.

Siapakah Daropi itu? Kenapa harus ditambahi keterangan KYAI dan CAKEP? Masa’ gak tahu? Daropi itu kakaknya si Piyan! Gak enak kalau ditulisnya MILIK DAROPI JELEK BANGET, karena ada si Piyan.

Dan, astagfirullahaladziim, ada juga sendal yang dikasih tulisan dengan hurup arab dan asma Allah. Kalau sekarang, pasti tidak akan mungkin saya lakukan. Harus bisa maklum, itu terjadi di jaman dulu, di jaman saya masih siswa SMP. 

Setelah semua ditulisin, sendal-sendal itu dibalikin lagi ke tempatnya. Lalu pergi, untuk tidak tahu apa yang kemudian terjadi. Tentu saja mereka akan mendapati sendalnya sudah ada tulisan dengan spidol permanen. Kalau saja dulu mereka minta ditulisnya pake spidol yang buat whiteboard, tentu gak akan bisa kami penuhi, karena jaman dulu belum ada spidol macam itu.

Besok harinya ada Kang Daman bercerita kepada bi Nae, katanya gara-gara itu sampai ada orang yang pulang dengan nyeker, karena di sendalnya ada tulisan huruf arab yang susah dihapus.

Di rumah, sebelum saya tidur, saya berfikir, bagaimana kalau seandainya Mas Oki tahu dan bertanya, kenapa sendalnya ditulisin dengan nama: MILIK PRIBADI IBU HAJI ITOH? Bolehkah saya menjawab:
”Saya gak tahu, Mas. Kalau tahu pasti akan ditulisin SENDAL MAS OKI, dan dikasih gambar ikan mas koki”
“Kenapa digambarin ikan mas koki?”
“Biar bagus aja, Mas”

Habis itu, saya tidur bersama buku Layar Terkembang, bersama buku Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma, yang tadi siang dibawa oleh sepupu saya dari sekolah. Buku yang seru yang besoknya membuat saya jadi bikin cerpen sebanyak empat lembar dan tidak tahu harus diapain.

Bogor dan panas medio Juli 2007 masehi

Mesjid Rolling Stones (Bagian I)

Waktu itu saya masih SMP. Seperti biasa, menjelang magrib, pergi ke mesjid, berkumpul di tengah mesjid, agak deket dengan mimbar, mengerumuni microfon untuk mengumandangkan puja-puji kepada Allah. Ada si Piyan, ada si Entis, ada si Wildan dan lain-lain sebagainya.
“Allah pasti bilang: Berisik!”
“Kenapa?”
“Kan Allah Maha Mendengar, ditambah pake speaker”
“Iya sih”
Tapi dengan speaker, rasanya seperti keren. Suara kami tidak cuma didenger oleh Allah, tapi juga oleh semua mahluk yang ada di dunia! Termasuk oleh Ibu. Termasuk oleh Bapak. Termasuk oleh orang yang sedang sakit gigi.
“Ibu denger aku enggak? Tadi, di speaker mesjid?”
“Denger. Iya, harus begitu”
“He he he. Bukan!”
“Denger apa?”
“Tadi aku teriak: “Bi Odah minta uang!”. Denger enggak?”
“Kamu ini!”
Bi Odah itu pembantu di rumah saya. Nanti deh saya cerita tentang bi Odah. Sekarang saya mau cerita tentang mas Oki dulu mumpung sudah ngantuk.
Jaman itu, mas Oki masih muda, tapi usianya jauh lebih tua dari kami. Sudah tamat SMA tapi tidak kuliah dan rambutnya ikal. Suka ada di mesjid kalau sedang tidak ikut bapaknya jualan beras di pasar. 

Di mesjid, dia suka mukul bedug sebelum adzan. Juga suka ngejemur karpet mesjid setiap hari kamis. Dia itu apa ya? Dia itu manusia dan anggota DKM, Dewan Kebersihan Mesjid, tapi dulu istilahnya bukan DKM, entah apa.

Pokoknya saya suka menyebut si mas Oki itu dengan sebutan Ikan mas Oki. Keren kan? Kedenger jadi seperti Ikan Mas Koki. Saya ngomongnya cuma ke teman, mas Oki jangan sampai tahu, nanti dia marah.

Suatu hari dia marah karena ada yang nempelin stiker Rolling Stones di podium mesjid. Mas Oki curiga, pelakunya pasti ada diantara anak-anak yang nanti akan ngaji setiap habis shalat magrib.

Bener aja, mas Oki datang. Minta izin ke Mang Auf, guru ngaji kami, untuk mau nanya siapa yang berani nempel stiker:
“Siapa yang nempelin stiker Rolling Syaiton ini!?”. Dia ngacungin stikernya. Kami semua pada diam. Tidak ada yang ngaku.

Anak-anak bingung dan takut kalau-kalau Mas Oki akan menuduhnya, karena memang tidak. Saya lihat mata Mas Oki memandang saya, sebentar sih, habis itu dia bicara:
“Sekarang kalian boleh gak ngaku. Tapi Allah pasti Maha Tahu, siapa yang nempel stiker ini di rumah-Nya. Nanti pasti akan disiksa di neraka!”
“Ngaku aja. Siapa?” Mang Auf ikut nanya. Tapi tetap tak ada yang ngaku.
“Ya sudah kalau begitu. Tanggungjawab sendiri di akhirat. Makasih Kang Auf”

Di rumah, sebelum tidur, saya senyum, inget Mas Oki bilang Rolling Syaiton. Dan langsung kepikiran juga dengan ancamannya bahwa nanti harus tanggungjawab di akhirat. Saya langsung bingung, apa yang harus saya jawab kalau ditanya malaikat:
”Tedi, kenapa kamu nempelin stiker Rolling Stones di podium mesjid Darurrohmah?"
”Itu stiker punya adikku”, dan langsung minta maaf. Minta dimaklum karena dulu saya masih anak kecil, masih belum mengerti bahwa stiker Rolling Stones tidak cocok ditempel di mesjid dan itu dosa.
“Terus, kenapa, waktu di bumi, kamu ngunci toilet dari luar padahal ada Mang Muston di dalamnya?”
“Kapan?”
“Waktu dia kencing di toilet mesjid?”
“Kok jadi nanya itu?”
“Kenapa? Jawab”
“Mang Muston itu gak asik!”
“Kenapa?”
“Kami lagi muji-muji Allah, microfonnya diambil”
“Terus?”
“Dia maunya sendirian. Kami gak boleh! Kataya berisik”
“Terus?”
“Kenapa dulu harus ada Mang Muston, bersama kami?”
“Kenapa memang?”
“Harusnya dia di Mars. Anak-anak Alien juga pasti gak akan suka?”
“Tapi kalau kalian yang megang microfon, kalian gak cuma muji Allah, kalian juga suka ngejek orang”
“Ngejek apa?”
”Halo, halo. Pengumuman, si Umang gak pernah mandi!”
“Bukan aku ih! Itu si Nandan”
“Kamu juga. Tapi nama yang diejeknya beda!”
“Si Bakri?”
“Iya, ke si Bakri, ke Mang Oman juga, kamu pernah. Ke si Entis. Ke si Dadi. Kamu itu, banyak”
Habis itu saya tidur, sebelum dia bertanya lagi di dalam kepala saya.

Bogor di awal Juli 2007 masehi