Kamis, 04 Desember 2014

PUISI TERA ERRAU

1
NYALA API

1. Buku ini adalah yang muncul dari dalam diriku untuk mengatakan tentang perasaanku kepadamu.
2. Perasaan halus dan bebas mengalir semenjak saat bertemu.
3. Menghisapku ke dalam pusaran waktu yang begitu manis.
4. Dan, aku tulis ini karena demikianlah menurut saya suara yang ada di dalam diriku.
5. Berbicara tentang dan hal-hal yang tertuang di antara aku dengan dirimu.
6. Mengenai diriku yang telah jatuh ke dalam semua pesonamu.
7. Dan tidak dapat dipertahankan lagi sampai waktu selanjutnya.
8. Nyala api cinta yang tumbuh besar ini, makin lama menjadi lebih kuat, lebih lama, lebih tinggi.


2
PERASAAN

1. Aku berikan ini kepadamu bahwa aku lebih suka berhubungan denganmu, jika harus mencari kehidupan yang berbasis perasaan.
2. Karena dirimu adalah yang bergabung dengan pikiranku. Dengan ruang kosong yang aku sediakan sejak pagi.
3. Dan kuperpanjang waktunya hingga malam, sebagai rindu.
4. Mengatakan semuanya dalam gelombang kekuasaan perasaan.
5. Dan itu semua adalah karena kau. Tidak perlu jenius untuk mengetahui keindahanmu.
6. Orang yang menyenangkan bagiku, tidak aku ragukan lagi, adalah orang yang sepertimu.
7. Aku terlibat dengan urusan yang penting ini.
8. Dan sekarang, jika aku telah mengatakan semuanya, lakukanlah untuk mendukungnya seolah-olah ini sebuah puisi untukmu.


3
TERA ERRAU

1. Dia adalah dirimu, nama tentang perasaan purba, cinta dan kasih sayang.
2. Tanpa dirimu, kehidupan macam apa yang akan membuatku betah tinggal di bumi?
3. Bahkan jika semua tempat di bumi ini bagus, kukira masih perlu ada dirimu, untuk memberi penyegaran.
4. Mengapa, tuhan menurunkan kamu ke bumi, aku tahu sekarang, agar aku bisa merasakan jatuh cinta.
5. Atau engkau adalah hadiah buat aku di bumi, jika aku tidak bisa mendapatkan bidadari sorga.
6. Aku mencintaimu, ini adalah urusanku, bagaimana kau kepadaku, terserah, itu adalah urusanmu.


Facebook: Tedi Junaedi
Twitter     :  @tedijunaedi77

Jumat, 31 Oktober 2014

Liburan Di Rumahku

LIBURAN DI RUMAHKU


Hari sudah siang memang. Tapi masih kuhirup nafas gunung dari jendela yg kubuka, dan kupanggil Pak Dadang untuk membuat dia menjadi celingukan karena akunya lalu sembunyi.




Itu memang kucingku, kucingku, kuberi nama anjing. Sejauh ini, dan aku yakin sampai selama-lamanya dia tidak akan pernah komplain, bahkan selama hidupnya dia tidak tahu bahwa dirinya disebut kucing. Itulah binatang, dan mungkin juga untuk beberapa makhluk lainnya.

Aku tumbuh besar bersama mereka dan curiga, jangan-jangan selama ini cecak mengira beja belajarku adalah jamban untuk kaumnya, dan aku menjadi pembantunya yang harus membersihkan kotorannya. Ih! Masihkah kau akan menyebut "Tergantung yang diatas?".

Itu cecak, aku ingin bicara soal lalat, dia menganggap muka si Nida adalah jambannya, aku bisa melihat di mukanya ada beberapa tahi lalat. Nida malah suka, dia merasa jadi manis dengan itu, tak pernah ia bersihkan.
BERSAMA RIAN MARDIANSYAH
#3


Setelah Rian selesai makan, dia ngambil beberapa anggur dan sepotong semangka dari lemari es, lalu duduk kembali denganku di ruang tamu. "Sekarang Abang masih berhubungan gak sama mantan Abang?", Rian nanya.

Jawabku:"Masih laah. Dia sekarang menjadi dutaku di masa laluku. Tugasnya memberi data dan informasi tentang apa yang terjadi di masa lalu". Rian tersenyum. "Untuk apa data informasi itu?". 

"Banyak gunanya. Bisa untuk bahan intropeksi, bisa untuk naikin kualitas rindu. Bisa untuk data bikin lagu, tulisan, dan lain-lain. Banyaklah". Rian tersenyum lagi. "Tapi kan dia menyakitimu, Abang?!" "Kan sudah ku bilang, rasa sayangku kepadanya lebih besar dari rasa sakit itu, yang membantu ku untuk bisa memberikan kesembuhan. Jika dia pergi, ku kira itu lebih baik, maksudku insayaAllah aku akan baik-baik saja. Yang aku takutkan adalah kalau aku pergi meninggalkannya, itu akan membuat aku merasa bersalah  di sepanjang perjalanan hidupku".

"Abang, bagusnya aku harus gimana?", tanya Rian seraya memandangku. "Tenang saja, perpisahan tak menyedihkan, yang menyedihkan adalah apabila setelah itu saling lupa. Tenang saja, perpisahan tak menyakitkan, yang menyakitkan adalah setelah itu saling benci". 

"Iya, Abang".


TAMAT

Kamis, 23 Oktober 2014

Kau Anggap saja lah Cerpen!

BERSAMA RIAN MARDIANSYAH
#2



"Patah hati itu, Rian, adalah juga potensi. Setidaknya dengan itu kamu bisa membuat puisi, bisa membuat lagu. Tidak harus hal baik atau hal positif yang harus kau salurkan. Hal buruk pun sama, harus, Rian, biar tidak menggenang di tempatmu".

Mendengar kata-kataku Rian harusnya nangis, tetapi tidak. Dia pergi ke dapur, untuk lalu kembali membawa sepiring nasi, 2 potong ayam goreng dengan sambal di sisi piringnya. "Makan, Bang", katanya sambil duduk lagi di kursi ruang tamu. Kukira dia lupa kalau ini rumahku. Tapi harus maklum, Rian sudah terlampau berlebihan menganggap ini sebagai rumahnya sendiri.

"Tadi, pas makan kue, kamu malu. Kok kalau makan enggak?", aku nanya Rian. "Kalau makan mah prinsip, Bang. Kalau malu, bisa bahaya", katanya, "Bang, kenapa orang sakit?". Dia nanya. "Karena, ya, hatinya masih berfungsi, Rian". Hmm. Oke

Atau, sakit hati itu karena kau nikmati, jika tidak, sudah sejak lama kau abaikan. Kukira, masalah adalah apa yang kita anggap masalah, jika tidak, maka bukan. "Abang pernah disakiti oleh perempuan?", Rian bertanya sambil ngunyah. "Pernah, Rian, tapi cintaku kepadanya, yang lebih besar dari itu, langsung bisa membantuku menyembuhkannya". Rian langsung memandangku dan senyum.

(Bersambung)

Rabu, 22 Oktober 2014

Kau anggap lah ini cerita pendek!

BERSAMA RIAN MARDIANSYAH
#1


Aku lagi sama si Rian di rumahku. Dia bilang dia sedih. Dia bilang baru putus cinta. "Atau, tujuan hidup ini memang untuk sedih, Rian. Kau anggaplah benar begitu, jadi sekarang harusnya kamu senang, karena sudah mencapai tujuannya".

Si Rian malah ketawa. "Kamu juga harusnya berterimakasih ke dia". Kok, terimakasih? "Iya, ketika dia khianat ke kamu, sebenarnya dia sedang jujur ke kamu. Dia sedang menunjukan dirinya yg tak baik untuk kau pacari atau kau nikahi". 

"Tapi, dia mengecewakan aku, Abang!". Dia manggil aku "Abang". Ya, pastilah kecewa. Dan sekarang kau tahu sekarang pacarmu adalah manusia yang tidak pantas bersamamu, karena nyatanya dia adalah manusia yang mengecewakan. Ke pacarnya aja berani, apalagi ke oranglain. 
"Masihkah akan kau kau tangisi orang macem itu kalau pergi?"

Lalu kata si Rian. "Abang pernah bilang tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena berpisah. Bisa karena menikah". Betul, Rian. Nah, satu tujuan sudah kau capai. Selamat ya. Mari rayakan dengan silahkan dimakan kuenya.

Selain sedang sakit hati, Rian juga selalu nyuruh aku nutup mata setiap mau ngambil kue. Malu katanya.
(Ternyata kisah Rian ini bersambung)

.

BUMI


Sekarang inilah bumi, yang kita injak-injak selama ini, lalu kataku pada Ibu pada waktu aku masih duduk di bangku SMP, aku takut, nanti bumi marah karena diinjak. Nanti pada waktunya, bumi akan menelan kita semua. Diiringi upacara tabur bunga dan lelehan air mata.


"Kecuali kalau kita menginjaknya dengan tujuan yang baik", kata Ibu. "Kecuali kalau kamu menginjaknya untuk sekolah, untuk bekerja, untuk berbuat baik, untuk melakukan yang bermanfaat, termasuk untuk ke warung karena disuruh Ibu". Aku tersenyum. Kukira Ibuku asal jawab.


Jadi, kemana kita pergi? Tapi apapun yang kita lakukan, ketika keluar dari rumah, tujuannya
adalah untuk kembali ke kamar tidur. Kau akan tidur nyaman kalau melakukan kebaikan, 
kau akan tidur dalam gelisah ketika melakukan keburukan.


Kukira sama, apa yg kiita lakukan di bumi, tujuannya adalah untuk tidur selama-
lamanya, didalam lubang ukuran satu kali dua meter. Kau baik di bumi, kau nyaman
disana. Kau jahat di bumi, kau akan tersiksa. Perasaan tak akan pernah bohong.


Lupakan. Atau diingat-ingat juga boleh. Tapi bumi, kadang suka kuanggap sebagai pesawat ruang angkasa. Berputar mengelilingi matahari. Waaah, berasa tamasya bersama
manusia lainnya dan juga hewan. Melihat bintang berkelip di malam hari, melihat bulan ketika malam, dan matahari menyala ketika siang. Kenapa matahari nyalanya bukan pada malam hari? Biar terang, jadi gausah pake lampu.

Twitter: @tedijunaedi77

Facebook: Tedi Junaedi

Selasa, 21 Oktober 2014

Semua Berkumpul Dalam Keharmonisan

1.

Cinta, mungkin irasional. Kegembiraan 
irasional. Tapi kamu adalah kamu, 
populer di kepalaku.

2.
Senang bertemu denganmu, untuk satu 
perasaan yang halus, yang bebas, yang
mengalir semenjak itu, yang deras
bersama darahku.

3.
Malam ketika aku bersamamu, aku 
hanya punya keyakinan, bahwa
memang, aku mencintaimu, dan itu
serius.

4.
Mengatakannya dengan kagum di atas
paru-paruku. Sebagai keinginan erotis
 yang paling berani. Menegaskan 
kembali kemerdekaanku sebagai
manusia.

5.
Itu adalah pernyataan yang sangat
jelas. Aku tidak terbiasa dengan semua
omong kosong.

6.
Sekarang, jika engkau sudah denganku,
gunakan aku untuk kesempatan
 membuat bahagiamu.

7.
Dan, tetaplah denganku, sampai engkau
terbiasa bersama hal yang
 berkaitan denganku.

8.
Untuk membuat situasi yang
 menyedihkan menjadi mudah dihadapi

9.
Tetaplah denganku, bersama karakter
diriku yang telah aku kembangkan
dalam hidupku, untuk hubungan
manusia yang saling menghagai.

10.
Tetaplah denganku, diri aku yang
sebenarnya dan kebiasaanku yang
 mendasar. Selalu ada untuk bisa 
menyenangkan.

11.
Kau datang kepadaku untuk segera
mengenal apa-apa dariku yang
tidak diketahui oleh orang lain dan kamu
setuju, mudah-mudahan kamu suka.

12.
Mari kita ingat, saat kugenggam
 tanganmu, itu menjadi esensi dari 
gairah rindu tentang dirimu. Aku tahu
rasanya!

13.
Mari kita ingat, ketika menmbus
malam bersamamu, di kota sunyi itu,
kau sedang mengubah hal-hal keras
dalam hidupku ketika aku
merengkuhmu.

14.
Kau adalah pelajaran tentang
keindahan yang aku dapatkan malam
itu, sebelum besok masing-masing
akan sibuk.

15.
Pelajaran bagaimana caranya aku 
mencapai kerinduan yang tak ada akhir
sampai aku bertemu denganmu.

16.
Sekarang apa yang kudapat, iba-tiba
aku ingin jadi Tuhan, yang maha
menentukan untuk membuatmu selalu
bahagia.

17.
Tapi aku ini manusia, yang bahkan
 kalah oleh kekuatan asmara, dari saat
 pertama kali aku mengenal dirimu.

18.
Dan kenyataan apa yang kau
rasakan, ada pada apa yang aku yakini,
mudah-mudahan benar kau suka,
mudah-mudahan kau cinta.

19.
Apa yang bisa kulakukan, Tuhan 
mendengar apa yang aku diamkan
tentang dirimu sampai tertidur dengan 
begitu senangnya malam ini.

20.
Terimakasih untuk dirimu yang sudah
bergabung dengan semua pikiranku.

Tedi Junaedi