Jumat, 31 Oktober 2014

BERSAMA RIAN MARDIANSYAH
#3


Setelah Rian selesai makan, dia ngambil beberapa anggur dan sepotong semangka dari lemari es, lalu duduk kembali denganku di ruang tamu. "Sekarang Abang masih berhubungan gak sama mantan Abang?", Rian nanya.

Jawabku:"Masih laah. Dia sekarang menjadi dutaku di masa laluku. Tugasnya memberi data dan informasi tentang apa yang terjadi di masa lalu". Rian tersenyum. "Untuk apa data informasi itu?". 

"Banyak gunanya. Bisa untuk bahan intropeksi, bisa untuk naikin kualitas rindu. Bisa untuk data bikin lagu, tulisan, dan lain-lain. Banyaklah". Rian tersenyum lagi. "Tapi kan dia menyakitimu, Abang?!" "Kan sudah ku bilang, rasa sayangku kepadanya lebih besar dari rasa sakit itu, yang membantu ku untuk bisa memberikan kesembuhan. Jika dia pergi, ku kira itu lebih baik, maksudku insayaAllah aku akan baik-baik saja. Yang aku takutkan adalah kalau aku pergi meninggalkannya, itu akan membuat aku merasa bersalah  di sepanjang perjalanan hidupku".

"Abang, bagusnya aku harus gimana?", tanya Rian seraya memandangku. "Tenang saja, perpisahan tak menyedihkan, yang menyedihkan adalah apabila setelah itu saling lupa. Tenang saja, perpisahan tak menyakitkan, yang menyakitkan adalah setelah itu saling benci". 

"Iya, Abang".


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar