Kamis, 23 Oktober 2014

Kau Anggap saja lah Cerpen!

BERSAMA RIAN MARDIANSYAH
#2



"Patah hati itu, Rian, adalah juga potensi. Setidaknya dengan itu kamu bisa membuat puisi, bisa membuat lagu. Tidak harus hal baik atau hal positif yang harus kau salurkan. Hal buruk pun sama, harus, Rian, biar tidak menggenang di tempatmu".

Mendengar kata-kataku Rian harusnya nangis, tetapi tidak. Dia pergi ke dapur, untuk lalu kembali membawa sepiring nasi, 2 potong ayam goreng dengan sambal di sisi piringnya. "Makan, Bang", katanya sambil duduk lagi di kursi ruang tamu. Kukira dia lupa kalau ini rumahku. Tapi harus maklum, Rian sudah terlampau berlebihan menganggap ini sebagai rumahnya sendiri.

"Tadi, pas makan kue, kamu malu. Kok kalau makan enggak?", aku nanya Rian. "Kalau makan mah prinsip, Bang. Kalau malu, bisa bahaya", katanya, "Bang, kenapa orang sakit?". Dia nanya. "Karena, ya, hatinya masih berfungsi, Rian". Hmm. Oke

Atau, sakit hati itu karena kau nikmati, jika tidak, sudah sejak lama kau abaikan. Kukira, masalah adalah apa yang kita anggap masalah, jika tidak, maka bukan. "Abang pernah disakiti oleh perempuan?", Rian bertanya sambil ngunyah. "Pernah, Rian, tapi cintaku kepadanya, yang lebih besar dari itu, langsung bisa membantuku menyembuhkannya". Rian langsung memandangku dan senyum.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar